Selasa, 19 April 2016
Adab - adab Silaturahmi
Pemateri : Ustadz Undang
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
Pada kesempatan malam ini Ana akan coba paparkan :
Adab adab Silaturahmi
Menyambung tali silaturahim merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim, sedangkan memutusnya termasuk dosa besar.
Silaturahim memiliki keutamaan yang sangat besar, selain di dunia dan juga kelak di akhirat.
Allah SWT dan Rasulullah SAW menjanjikan pahala yang sangat besar bagi Muslim yang bersilaturahim.
Orang yang gemar bersilaturahim pun akan mendapatkan manfaat yang tak terhingga dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah SAW mengungkapkan, orang yang suka dan gemar bersilaturahim akan di luaskan rezekinya dan dipanjangkan usianya.
Nabi SAW bersabda,
‘’Barang siapa yang suka apabila Allah membentangluaskan rezeki banginya dan memanjangkan umurnya, maka hendaklah ia bersilaturahim.
(HR Bukhari).
Kebenaran hadis itu telah dibuktikan melalui hasil penelitian ilmiah yang dilakukan Dr Rachel Cooper, dari Dewan Penelitian Medis.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam British Medical Journal itu menyebutkan bahwa orang yang suka bersalaman dan bersilaturahim lebih panjang usianya. Menyambung tali silaturahim pun sangat diperintahkan kepada setiap umat yang beriman.
Rasulullah SAW bersabda,
‘’…Barang siap yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim…’’
(HR Bukhari).
Nah, agar silaturahim bisa memberi manfaat dunia dan akhirat, maka adab-adabnya perlu diperhatikan.
Apa sajakah adab silaturahim yang harus diperhatikan seorang Muslim?
Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah merinci adab-adab silaturahim yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah.
Apa saja adab Silaturahmi ?
Niat yang baik dan ikhlas
‘’Allah tak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas. Maka wajib bagi siapapun mengikhlaskan niatnya kepada Allah SWt dalam menyambung tali silaturahim. Janganlah, seseorang bersilaturahim dengan tujuan riya,’’ ungkap Syekh Sayyid Nada.
Mengharap pahala
Menurut Syekh Sayyid Nada, hendaknya seorang Muslim bersilaturahim untuk menentikan dan mengejar pahala, sebagai mana yang telah Sang Khalik janjikan.
Memulai silaturahim dari yang terdekat
‘’Semakin dekat hubungan rahim, maka semakin wajib menyambungnya,’’
ungkap Syekh Sayyid Nada.
Perkara ini, kata dia, perlu diperhatikan setiap Muslim dalam menyambung tali silaturahim.
Mendahulukan silaturahim dengan orang yang paling bertakwa kepada Allah SWT
Semakin bertakwa seorang karib kerabat kepada Allah SWT atau semakin bagus agamanya maka semakin besar pula haknya dan semakin bertambah pahala bersilaturahim dengannya.
Meski begitu, kata Syekh Sayyid nada, silaturahim juga dianjurkan kepada karib kerabat yang kafir dan tidak saleh, dengan tujuan untuk mengajak pada jalan kebenaran.
Mempelajari nasab dan mencari-cari kerabat yang bersambung kepada seseorang dari kerabat jauh
Ada sebagian orang, kata Syekh Sayyid Nada, yang merasa cukup bersilaturahim dengan saudara-saudaranya saja, kemudian meninggalkan selain mereka. Ada pula sebagian orang yang bersilaturahim dengan orang yang ia kenal saja, tak begitu peduli terhadap karib kerabat jauhnya.
Padahal, mereka sebenarnya juga berhak untuk disambung tali silaturahimnya.
Nabi SAW bersabda,
‘’Pelajarilah nasab-nasab kalian yang denga itu kalian dapat menyambung tali silaturahim. Sebab, menyambung silaturahim dapat mendatangkan kasih sayang dalam keluarga, mendatangkan harta, dan memanjangkan umur.’’
(HR at-Tirmidzi).
Tak henti menyambung silaturahim dengan orang yang memutusnya
Rasulullah menganjurkan agar seorang Muslim tetap berupaya menyambung tali silaturahim dengan karib kerabatnya, walaupun mereka selalu berupaya memutusnya.
Menurut Nabi SAW, upaya orang tetap menyambung tali silaturahim akan senantiasa mendapat pertolongan dari Allah SWT.
Memulai dengan bersedekah dan berbuat baik kepada kerabat yang membutuhkan
Nabi SAW bersabda,
‘’Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah yang diberikan kepada karib kerabat yang benci.’’
(HR Al-Hakim).
Menahan gangguan terhadap karib kerabat
Seorang Muslim seharusnya tak menyakiti karib kerabatnya, baik dengan perkataan maupun perbuatan, dan menjaga perasaan mereka sebisa mungkin.
menumbuhkan rasa gembira pada karib kerabat
Menurut Syekh Sayyid Nada, sebisa mungkin hendaknya seseorang saling mengunjungi satu sama lain, terutama pada hari Id dan pada saat-saat tertentu.
Alloh SWt berfirman dalam
Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 1:
“... Dan bertakwalah kepada Allah nan dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) interaksi silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu .”
Keutamaan silaturahmi
Ada banyak
Diberi berkah umur dan rezeki.
Orang nan bahagia bersilaturahmi, rezekinya akan ditambah dan umurnya akan dihabiskan buat melakukan amal kebaikan.
Bagi orang Islam, tentu saja silaturahmi merupakan bagian dari ibadah juga. Sehingga aktivitas ini dapat mendatangkan pahala dari Allah.
Dengan silaturahim, akan memperbanyak teman dekat nan tentunya juga akan banyak menularkan kebaikan.
Kebahagiaan akan terasa jika kita banyak berbagi dengan sesama.
Memperkuat persatuan umat Islam.
Dengan silaturami, akan timbul rasa cinta dan persaudaraan, sehingga tak akan mudah tercerai-berai.
selain yang disebutkan di atas berdasarkan hadis-hadis shahih. Orang getol bersilaturahmi kelak akan mendapatkan mimbar dari cahaya di akhirat, serta akan dibangkitkan bersama orang-orang nan dicintai dan sering ia kunjungi pada saat hari kebangkitan.
Wallahu a'lam bish-showab
Demikian Paparan dari ana
Yang benar datang nya dari اللّه
Mohon maaf jika ada salah salah kata dalam penulisan , itu murni kesalahan ana yang masih fakir dalam ilmu Agama
من اراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن ارادالاخرة فعليه بالعلم ومن ارادهما فعليه بالعلم
Barang siapa yang menginginkan dunia maka hal itu dapat dicapai dengan ilmu, barang siapa yg menginginkan akhirat hal itu bsa didapat dengan ilmu, maka yg mnginginkan keduanya dapat didapat dengan ilmu
العلم بلاعمل كا لشجر بلا ثمر
Ilmu itu apabila.tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah
🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚
〰〰〰〰〰〰〰〰
REKAP TANYA-JAWAB
Tanya :
Ustadz mau nanya, adakah perbedaan antara silahturahmi dan silahturahim?
Jawab;
Kata { اَلرَّحْمُ } berarti kerabat,
maka { صِلَةُ الرَّحْمِ } berarti menjalin hubungan kekerabatan agar tidak terputus dengan saling berkunjung misalnya, bertanya tentang kabar dan keadaannya atau yang semisal dengannya, yang dimaksudkan agar tetap terjalin hubungan kekerabatan yang baik.
Sedang kata { اَلرَّحِيْمُ } adalah salah satu nama dari nama-nama Allah,
sehingga { صِلَةُ الرَّحِيْمِ } maknanya adalah menjalin hubungan dengan Allah ﷻ , yaitu dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan laranganNya.
Maka kurang tepat jika kita mengatakannya SILATURRAHIM
{ صِلَةُ الرَّحِيْمِ }
Padahal yang di maksud adalah SILATURAHMI
{ صِلَةُ الرَّحْمِ }
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
Tanya :
Ustad dlu saya mencoba utk menyambung silaturahmi kepada orang yg telah memutuskan tali silaturahmi.. tapi dia menolaknya.. apakah saya masih berdosa ustad?
Jawab:
InsyaAllah benar ya mba barkah... Perkara orang mau terima atau menolaknya itu urusan lain yang terpenting kita sudah berusaha menjalin tali silaturahmi
Alloh maha tahu hati setiap Hamba Nya
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
Tanya :
Ustadz, jika ad tetangga kita si A dlunya dia sangat dekat dengan B , sampai pengajian aja nyamper , ngobrol ya sperti keluarga sndri .. Tapi semenjak si B sakit , si A Tidak dekat lagi, bahkan menyapa pun tidak padahal rumah bersebelahan gmn tadz ? Apa itu salah satu memutuskan silaturahmi? Keluarga si B Jadi ilfeel sama keluarga si A, karna memang si A basicnya suka milih" sdalam bergaul ,
Syukron ustad
Jawab:
Tiga untuk pertanyaan no 3 Iya Si A bisa di bilang memutuskan silaturahmi
Tapi Alangkah Indahnya bila pihak si B tidak berburuk sangka kepada si A walaupun si B tahu si A basicnya suka milih" sdalam bergaul ,
Tetaplah berfikir positif
Rasa benci akan merugikan diri tersenyumlah ketika disakiti
Hati tanpa benci bentuk jiwa tegar dan damai
Jadilah diri yang selalu memaafkan, terutama hatimu.
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
Tanya :
ustadz,baikkah silaturahmi yg dilakukan dalam keadaan terpaksa karna dipaksa?meski akhirnya orang tersebut mau diajak mengunjungi saudaranya?
Jawab:
Untuk sebuah kebaikan pada awalnya memang harus di paksakan, ada yg memaksakan diri, ada yang di paksakan
InsyaAlloh bersama bergulir nya waktu walaupun awalnya terpaksa nanti juga jadi biasa.
Selama untuk kebaikan tak masalah
Fastabiq khoir....
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب.
Tanya :
Begitu luar biasanya manfaat silaturrahmi.. lalu sebagaimana fenomena skrg.. dimana teknolongi makin canggih.. yang jauh jd dekat krna ada media silaturrahmi cukup dgn menggunakan gadget.. itu bgmn Ustadz..?
Apakah hanya dgn berkomunikasi sprti itu sudah cukup..? Apalagi jaman skr sudah bs video call..
Jawab:
Gadget adalah salah asyu sarana komunikasi. Perkembangan gadget memudahkan kita dalam bersilaturahmi.
Sebenarnya boleh saja silaturahmi via online, macam kita gini. Tapi untuk urusan silaturahmi, lebih afdolnya langsung bertemua, tatap muka.
Jika tinggalnya berjauhan, kita bisa mengaturnya bertemu barang tiga bulan ato bahkan setahun sekali.
Bertemu langsung akan menambah keterkaitan hati.❤❤❤
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب.
Tanya :
Ustad bagaimana jika telah berushaa utk menyambungkan silahturahmi tapi org tsb tdk merespon?
Jawab:
Mba gita coba lihat jawaban no 2 intinya sama dengan jawaban no 2 ya
Tanya :
Ustadz.. Apakah silaturahim itu hanya berlaku kepada keluarga saja?
Dan jika kepada oranglain itu hanya sekedar berkunjung, seperti itu??
Jawab :
jika dirunut dari sumber asal serapannya
karena terdiri dari dua kata yaitu “shilah” (menyambung) dan “Rahmi” (kekeluargaan)
bisa kita lihat dalam hadits berikut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ
“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”
Silaturahmi yang dimaksud hadits adalah keluarga bukan sekedar teman
Disebutkan dalam hadits banyak keutamaan silaturahmi. Misalnya diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ”.
“Barang siapa menginginkan untuk diluaskan rizkinya serta diundur ajalnya; hendaklah ia bersilaturrahmi”.
Maka meninjau dari makna bahasanya, silaturahmi di sini hanya kepada keluarga saja. Keluarga bisa meliputi keluarga inti dan keluarga yang tercakup dan terlibat dalam hal warisan. Adapun ke rumah teman maka bahasa syariatnya adalah “ziyarah”. Hanya saja ini tidak lazim dalam bahasa Indonesia tidak biasa digunakan dan lebih identik dengan kata “ziarah kubur”
Jadi komentar,
“Saya mau ke rumah teman dulu, silaturahmi, supaya panjang umur dan mudah rezeki”
Kurang tepat secara syariat karena yang dimaksud keutamaan dalam hadits adalah silaturahmi ke keluarga bukan ke teman
Karenanya hubungan keluarga harus dijaga dan dimotivasi oleh Islam, bahkan ada ancaman khusus bagi orang yang memutusnya.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
“Tidak akan masuk surga pemutus (silaturrahmi)”.
Semoga kita tetap menjadi saudara seiman mba😊
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب.
Tanya :
Bagaimana silaturahmi kita bisa seimbang antara orang tua kandung dengan mertua kita?krna trkadang setelah menikah sulit untk menyimbangkan silaturahmi nya
Jawab:
Setelah menikah kita harus tetap silaturahmi ke orang tua.
Orang tua kita, adalah orang tua pasangan kita. Begitu juga sebaliknya, orang tua pasangan kita, adalah orang tua kita.
Agar seimbang, posisikan keduanya sebagai orang tua kita.
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب.
Tanya :
Ustad bagai mna dengan orng yg telah menyakiti qita trus g meminta maaf padahal tau klo salah. Tiba" aja diem.. apa kah kita harus terap mnjga tali silaturahmi itu??
Jawab:
Pasti rasanya 'nysek' banget saat ada orang yang udah jelas bikin salah, tapi g minta maaf.
Bisa jadi dia tidak tahu atau tidak merasa telah hal tidak kita inginkan.
Sebaiknya tetap silaturahmi ...sambil memahami tipikal apa si dia. Jika ada ksempatan, sampaikan hal yang telah menyesakkan hati.
Hidup adalah pilihan...
Apapun yang membuat sedih lupakanlah...
tanpa takut akan hilangnya kebahagiaan kita di masa depan...
Niat kan semua Karena Alloh semata
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
Tanya :
Afwan ustadz, apa sjakah batasan² dalam silaturahim?
Jawab :
Dari Abu hurairah Ra,
berkata :
Rasulullah bersabda: "Janganlah kalian saling dengki, jangan saling meninggikan harta, jangan saling membelakangi, Jadilah kalian hamba-
hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yang lainnya, tidak boleh berbuat dzalim kepadanya, tidak boleh merendahkannya, tidak boleh menipunya, dan tidak boleh menghinanya.
Takwa itu ada
disini.
"Beliau menunjuk dadanya tiga kali".
cukup jahat seseorang yang menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim
yang lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya" (HR Muslim).
Ibnu Abbas Ra meriwayatkan; Rasulullah bersabda
"sambunglah hubungan kekeluargaanmu, walau hanya dengan salam"
Hadits 2 di atas adalah batasan2 mana yang harus di lakukan dan apa yang tidak boleh
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب.
Tanya :
ust,bagaimanakah seharusnya sikap seorang anak yg sudah mualaf melakukan shilaturahim dgn ortunya yg beda agama?dosakah suami wanita tersebut melarang istrinya tersebut menyambung shilaturahim dgn ortu nya?
Jawab:
melirik dari Kisah Sahabat
Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘anhu dan ibu dpt dijadikan sebagai pelajaran.
Dalam hadits yg diriwayatkan Imam Muslim
Diceritakan bahwa Ummu Sa’ad (ibu Sa’ad) bersumpah tdk akan berbicara kpd anak dan tdk mau makan dan minum krn menginginkan Sa’ad murtad dari ajaran Islam.
Ummu Sa’ad mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh seorang anak untuk baik kpd kedua orang tuanya.
Ibu berkata,
“Aku tahu Allah menyuruhmu beruntuk baik kpd ibumu dan aku menyuruhmu untuk keluar dari ajaran Islam ini”.
Kemudian selama tiga hari Ummu Sa’ad tdk makan dan minum. Bahkan memerintahkan Sa’ad untuk kufur.
Sebagai seorang anak Sa’ad tdk tega dan merasa iba kpd ibunya.
Berkaitan dgn kisah Sa’ad ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu seperti yg terdpt pada surat
Al-Ankabut ayat 8 .
“Arti : Dan Kami berwasiat kpd manusia agar berbakti kpd orang tua dgn baik, dan apabila kedua memaksa untuk menyekutukan Aku yg kamu tdk ada ilmu, maka janganlah taat kpd keduanya”
Sedangkan wahyu yg kedua dalam surat Luqman ayat 15.
“Arti : Dan apabila kedua memaksamu untuk menyekutukan Aku dgn apa-apa yg tdk ada ilmu padanya, jangan taati kedua dan bergaul lah dalam kehidupan dunia dgn peruntukan yg ma’ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yg kembali kpd-Ku kemudian ha kpd-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kpdmu apa-apa yg telah kamu kerjakan“.
Turun ayat ini membuat Sa’ad semakin bertambah mantap keyakinan dan akhir Sa’ad membuka mulut ibu dan memaksa ibu untuk makan.
Dengan demikian Sa’ad tdk kufur kpd Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga bisa berbuat baik kpd ibunya. Para Ulama mengambil dalil dari ayat ini tentang wajib berbakti dan bersilaturahmi kpd kedua orang tua meskipun kedua masih kafir.
Kafir yg dimaksud pada permasalahan ini bukan kafir harbi (kafir yg menentang dan memerangi Islam).
Jika orang tua tidak kafir harbi, tdk menyerang kaum muslimin, maka hendaklah bergaul dgn mereka dgn baik dan bersilaturahmi kepada keduanya. Hal tersebut didasarkan kepada surat Luqman ayat 14. “Arti :
Dan bergaul-lah kepada kedua dalam kehidupan dunia dengan cara yang ma’ruf”
Kemudian dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk beruntuk baik kepada orang-orang yang tidak menyerang kita. “Arti :
Allah tidak melarang kamu untuk beruntuk baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama. Dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguh Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil“.
Namun berbeda kisah seorang sahabat yang justru membunuh ayahnya sendiri yaitu Abu Ubaidah Ibnul Jarrah ketika perang badar sedang berkecamuk. Dalam konteks ini maka Allah melarang abu ubaidah untuk berbakti kepada orang tuanya Karena orang tuanya tergolong dalam kaum KAFIR HARBI, yaitu kaum yang ikut memerangi kaum muslimin dengan alasan agama. Seperti firman Allah yang mengatkan :
“Sesungguh Allah melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yg memerangimu krn agama. Dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka ialah orang-orang yg zhalim
(QS. Al-Mumtahanah : 9).
Bahkan untuk mendo’akan mereka baik kaum kafir harbi atau kafir biasa kita tidak diperbolehkan oleh Allah SWT dalam firmannya yakni :
“Tidaklah sepatut bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kpd Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasa orang-orang musyrik itu ialah penghuni neraka jahannam
(QS At-Taubah : 113)”
Tercermin kembali hal ini dalam kisah nabi Ibrahim as dalam surah At-Taubah ayat 114. “yang Artinya : Dan permintaan ampun dari Ibrahim kpd Allah untuk bapak tidak lain hanyalah karena janji yang telah diikrarkan kepada bapak itu maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapak itu ialah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri dari padanya, sesungguh Ibrahim ialah seorang yang sangat lembut hati dan lagi menyantun”.
Walaupun tidak boleh memintakan ampunan dan rahmat kpd orang tua yang masih kafir tetapi masih diperbolehkan memintakan hidayah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendakwahkan jika bukan kafir harbi. Jadi dakwah kepada orang tua yang masih kafir harus tetap dilakukan dan dengan cara yang baik. Dapat kita lihat bagaimana dakwah Ibarahim ‘Alaihi Shalatu wa sallam kpeada orang tuanya.
Beliau mendakwahkan dengan kata-kata yang lemah lembut.
Kasih penjelasan kepada suami bisa di kasih contoh tersebut di atas kasih pemahaman kita bersilaturahmi semoga orang tua mendapatkan hidayah ke islaman amiin
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Clossing
Statement :
Silaturahmi dapat membersihkan amalan,
Memperbanyak Harta, menghindarkan bala,
Mempermudah hisab(di hari kiamat), dan menunda ajal tiba.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar