Jumat, 10 Juni 2016

ATM 10 Juni 2016

Tafsir QS. An-Nisa : ayat 44-46

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ اُوْتُوْا نَصِيْبًا مِّنَ الْكِتٰبِ يَشْتَرُوْنَ الضَّلٰلَةَ وَيُرِيْدُوْنَ اَنْ تَضِلُّوا السَّبِيْلَ   ؕ
Tidakkah kamu memperhatikan orang yang telah diberi bagian Kitab (Taurat)? Mereka membeli kesesatan dan mereka menghendaki agar kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).
[QS. An-Nisa': Ayat 44]

وَاللّٰهُ  اَعْلَمُ بِاَعْدَآئِكُمْ  ؕ  وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَلِيًّا  ۖ   ۙ  وَّكَفٰى بِاللّٰهِ نَصِيْرًا
Dan Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuhmu. Cukuplah Allah menjadi pelindung dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu).
[QS. An-Nisa': Ayat 45]

مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا يُحَرِّفُوْنَ الْـكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖ وَ يَقُوْلُوْنَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَّرَاعِنَا لَـيًّۢا بِاَ لْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِيْ الدِّيْنِ   ؕ  وَلَوْ اَنَّهُمْ قَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَـكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَاَقْوَمَ  ۙ  وَ لٰـكِنْ لَّعَنَهُمُ اللّٰهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا
(Yaitu) di antara orang Yahudi, yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Dan mereka berkata, "Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya." Dan (mereka mengatakan pula), "Dengarlah," sedang (engkau Muhammad sebenarnya) tidak mendengar apa pun. Dan (mereka mengatakan), "Ra‘ina," dengan memutarbalikkan lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, "Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami," tentulah  itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, tetapi Allah melaknat mereka karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali sedikit sekali.
[QS. An-Nisa': Ayat 46]

Ayat 44-45 :

Ayat ini diturunkan berkaitan dengan para cendikiawan Yahudi yang tinggal di kota Madinah ketika datangnya Islam. Sepatutnya mereka itu mengimani Rasul dan al-Quran, namun ironisnya, sejak awal mereka mencoba memusuhi dan menentang Rasul, bahkan mereka bekerjasama dengan kaum Musyrik Mekah. Ayat ini mengingatkan bahwa para cendekiawan Ahlul Kitab mengetahui firman Allah, tapi tidak menjadikan Kitab sebagai jalan petunjuk kebenaran bagi diri mereka sendiri. Tidak cukup itu, mereka malah menyesatkan orang lain yang ingin beriman kepada Allah Swt. Allah menegaskan kepada umat Islam agar mereka tidak takut terhadap permusuhan kaum Musyrik. Karena kaum kafir tidak terlepas dari kekuasaan  ilahi dan kalian  juga  pasti mendapatkan bantuan  Allah.

Dari dua ayat tadi terdapat  tiga  pelajaran yang dapat dipetik:

1.  Mengenali  Kitab Allah dan hukum-hukum  ilahi dengan sendirinya tidak menjadi penyebab kebahagiaan dan keselamatan.

2. Musuh utama masyarakat  Islam  adalah musuh agama dan ideologi, baik di dalam maupun di luar negeri.

3.Allah hanya akan melindungi orang yang berpegang teguh pada-Nya.

 
Ayat 46 :
Salah satu cara penentang Islam mengganggu adalah dengan menghina dan mengolok-olok. Al-Quran banyak mengutip sikap dan gangguan para penentang Islam ini. Jelas, mereka memilih cara ini karena tidak punya kemampuan melawan logika Islam. Mereka hendak mempertunjukkan  kedengkian dan dendam mereka terhadap Islam.  Dalam ayat ini disebutkan, beberapa orang Yahudi menyalahgunakan penggunaan kalimat serta menyindir Rasul dengan mengatakan, "Engkau yang berkata, sementara kami yang tidak mendengarkan dan kami  juga  berkata, engkau tidak mendengar, karena apa yang engkau katakan  adalah untuk membodohi  kami. Inilah  yang  menyebabkan kami tidak menaatimu."

Mereka bahkan menyalahgunakan kata yang mirip.  Ketika Rasul  Saw membacakan ayat-ayat  al-Quran, kaum  Muslimin berkata,  "Wahai Rasul! Raa'ina!" Artinya, bertenggangrasalah kepada kami, dan berikan kepada kami kesempatan untuk dapat mendengarkan perkataanmu dengan lebih baik dan kami simpan di dalam ingatan kami. Adapun kaum Yahudi menggunakan kalimat ini di depan Rasul, dan yang dimaksudkan adalah arti lainnya yaitu membodohkan. Oleh itulah, Allah berfirman ditujukan kepada mereka dan juga kaum Muslimin agar mereka menggunakan  kata "Undzurna"  sebagai ganti kalimat "Raa'ina" yang memiliki arti memberikan peluang dan tidak memiliki makna buruk tadi.

Dari ayat tadi terdapat  tiga  pelajaran yang dapat dipetik:

1.  Kita harus bersikap obyektif, sekalipun di hadapan para musuh. Ayat ini tidak mencela semua orang Yahudi, tapi hanya kepada mereka yang benar-benar mencemooh.

2.  Tidak boleh menodai  kesucian agama, baik  terkait pemimpin maupun hukumnya.

3.  Keselamatan manusia terletak pada kepatuhannya  kepada Nabi dan Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar